Langsung ke konten utama

saat iman lagi ga oke (lagi, lagi, lagi)

Karena kita membandingkan diri kita dengan oranglain (atau nasib org beriman dg nasib org tidak beriman) sama-sama menggunakan dunia.
Padahal Allah tidak banyak berjanjii urusan dunia pada org beriman. Bandingkanlah orang beriman itu dengan akhirat, org tidak beriman dg dunia. Dia dapat apa di  dunia, kita dapat apa di akhirat. Itu baru imbang perbandingannya.
Kalau kita ngebandingin dia dapat apa di dunia, kita dapat apa di dunia, ga matematis menurut islam, ga logis menurut iman.
Baru logis kalau membandingkan , misal dia riba di dunia dapat ap di dunia, kita ga riba, kita dapat apa di akhirat.
Dia memulai usaha dengan riba, dia bisa mendapatkan aset sekian, saya memulai dengan cara yang lebih syari, kenapa asetnya tidak sebanyak dia?
Kalau pertanyaannya salah, tidak akan ada jawabannya.

“Saya sudah hijrah kok masih susah hidup saya?”
Karena itu ngehitungnya pakai matematika dunia.

Pakailah kacamata rabbani, cara pandang Allah.

“Wama indallahi khair”
apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik

“Wal akhiratul khairun wa abhko
kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal



-Rangkuman ceramah ust. Hanan Ataki (yang judulnya lupa)-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INGATLAH HARI INI

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته  Kawan dengarlah Yang akan aku katakan Tentang dirimu Setelah selama ini Ternyata kepalamu Akan selalu botak Eh, Kamu kaya gorila Cobalah kamu ngaca Itu bibir balapan Dari pada gigi lu Kayak kelinci Yang ini udah gendut Suka marah-marah Kau cacing kepanasan Tapi ku tak perduli Kau selalu di hati

lagi...

kembali diingatkan,  kalau hanya Allah Yang Paling Tahu apa yang umat-Nya butuhkan... Allah (lagi-lagi) mengabulkan doa-doaku... Maasya Allah semua berjalan sesuai keinginanku... Akhirnya, merasakan bahagia yang selama ini hanya ada dalam impian... Sampai terjadilah sesuatu yang tidak pernah terpikirkan,  "astaghfirullah hal ini terjadi juga padaku?" ,  reaksi spontanku saat kejadian... . . *menekan tombol “pause” dalam diri ini untuk waktu yang cukup lama (sekarang jg masih “pause” si, hahaha)* . . . dulu, pernah belajar ikhlas, melepas yang bukan haknya... alhamdulillah bisa melewatinya.. kemarin, kembali diingatkan oleh Allah SWT, diingatkan tentang bab “ikhlas” mari belajar lagi, pelan-pelan tidak apa-apa dulu saja bisa, kenapa tidak untuk kali ini?!! maaf Allah... saya selalu “sok tau” tentang kebutuhan saya... padahal, hanya Allah Yang Paling Tahu, apa yang hamba-Nya butuhkan... Kota Perwira FREEboary 2...

Loading...

Sami'na Wa Atho'na (we hear and we obey - Al Baqarah 285) Bukan sedang menggurui, bukan sok alim atau sebagainya... Lebih tepatnya berbagi cerita, berbagi pengalaman, barangkali ada kesamaan atau mungkin bisa menjadi inspirasi (alhamdullillah banget kalo ini mah :’) ) Aku masih jauhhhhhhhhhhhhhhh banget dari kata “wanita sholehah”. Awal berjilbab juga karena nazar. Alhamdulillah perlahan-lahan niat sudah dirubah. Aku pikir setelah berjilbab ya udah stop selesai metamorfosisku. Dulu kalo liat akhwat pake jilbab besar, di pikiranku "dia jilbabnya besar, saya harus menghormati" ga kepikiran sama sekali untuk mencoba berpenampilan seperti itu. dari akhir 2012 alhamdulillah sudah mempensiunkan celana jeans, ini juga karena seseorang ga suka liat aku pake celana ketat *thank you so much, you* tapi kerudung masih disampirin ke pundak :( Setelah lulus kuliah, entah kapan tepatnya, mulai ada rasa risih saat berkerudung tidak menutup dada. Alh...